CERPEN DUTA

CERITA PULANG SEKOLAH

(@_puanpena)

Bel pulang sekolah sudah berbunyi dua puluh menit yang lalu. Kelas XI IPA 1 terlihat sepi dari luar karena sudah ditinggal penghuninya. Tapi, kalau kalian mau melongok ke dalam, maka akan terlihat sesosok makhluk. Bukan, bukan makhluk ‘apa’ tapi ‘siapa’. Lihat lebih jelas lagi! Diketahui kalau itu adalah manusia, lebih tepatnya pemuda tanggung berusia 16 tahun 10 bulan 6 hari 2 jam 35 menit –maaf, lupakan yang terakhir. Kalian tanya bagaimana aku tahu? OMG! Tentu saja. Karena pemuda yang kumaksud adalah aku sendiri. Hiks hiks hiks! Ok ok. Kembali ke laptop. Lalu, untuk apa aku disini? Itu yang mau kuberitahu pada kalian. Tapi ingat! Jangan bilang siapapun. Apalagi ibuku! Aku tidak yakin masih bisa selamat kalau ibuku tahu. Janji yah! Bagus.

Oh ya, sebelum aku menceritakan apa yang terjadi, alangkah baiknya kalau kalian mengenalku lebih dulu. Tak kenal maka tak sayang, benar kan? Baiklah, namaku Glen, bukan Glen Fredly, Glen Alinsky, apalagi Glen….dotan. Hanya Glen, titik. Kalian tak perlu tahu nama lengkapku, itu sedikit err…. ndeso kurasa. Teman-temanku memanggilku Glen, guruku juga Glen, ayahku, ibuku, kakekku, kakakku, sepupu-sepupuku juga Glen. Tapi tidak dengan nenekku. Beliau memanggilku dengan sebutan ‘Glembo’. Aku tidak tahu sejarahnya. Saat aku bertanya (waktu itu masih kecil), dengan logat cadel yang menggelikan, nenekku bilang “Glembo itu nama seorang jagoan pasar yang keren”. Aku yakin saat itu aku melihat nenekku mengeluarkan efek bling-bling yang menyilaukan. Tapi aku percaya saja. Toh, nenek bilang kalau Glembo itu keren, otomatis aku juga keren kan? Hehehe… Tapi itu dulu. Sekarang setelah aku tau siapa itu Glembo, aku tidak mau lagi dipanggil seperti itu. Demi apa! Daripada dibilang keren si Glembo lebih pantas dibilang menyeramkan. Keren darimananya, kalau ternyata wajahnya saja, oh… aku tidak mau mengingat itu lagi. Hiiiiii…..

Cukup perkenalannya. Sekarang mari kuceritakan mengapa dan bagaimana aku bisa ada di kelasku yang sudah sepi ini. Sebenarnya semuanya berjalan seperti biasa. Aku bangun pagi guna mengerjakan tugasku sebagai umat yang beragama. Setelah selesai dengan ritual yang menyangkut mandi dan tetek bengeknya, aku keluar kamar dengan dandanan rapi (sedikit berantakan karena tak mengenakan dasiku dengan benar). Aku menyapa ayah, ibu dan kakakku seperti biasa. Sarapan pagi seperti biasa. Menggoda kucing kakakku seperti biasa. Berangkat sekolah seperti biasa. Dan sampai di sekolah pun seperti biasa ditambah teriakan ala penggemar setiap kali aku mengerling genit pada setiap siswi yang menyapaku. Aku keren. Dan semua orang tahu itu. Hahaha…!  Pokoknya semuanya berjalan seperti biasa.

Lalu kenapa? Begini ceritanya. Pagi itu, di sekolah jam pelajaran pertama adalah Fisika. Aku tidak pernah paham dengan pelajaran ini. Tapi bukan berarti aku membencinya sampai harus bolos pelajaran seperti disinetron-sinetron yang sering ditonton kakak perempuanku. Aku tetap mengikuti pelajaran meski dengan tampang mupeng yang kentara. Teman sebangkuku sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Namun begitu, pelajaran ini sukses kulewati dengan selamat sentosa tanpa kurang suatu apa. Akhirnya pelajaran kedua dimulai, yaitu Sejarah juga masih berjalan wajar ditiga puluh menit pertama.Tapi mendadak aku merasakan firasat buruk saat pak guru Hotman, begitu aku memanggilnya bukan karena wajahnya mirip salah satu pengacara kondang tapi memang itu namanya, menanyakan tugas merangkum dua minggu yang lalu. Sedetik kemudian wajahku memucat.Oh oh oh! Ini gawat! Demi kolor kakekku yang bergambar Hello Kitty! Ini gawat pemirsah! Aku lupa! Caps lock! AKU LUPA!

Saat itu juga rasa panik menjalar disetiap sel tubuhku. Keringat dingin merembes lewat sela-sela ketiak yang selalu kuberi deodoran berbahan bunga matahari. Asal kalian tahu, pak Hotman sebenarnya bukanlah guru sangar seperti namanya. Perawakannya kurus tinggi dengan kulit sawo matang. Ia juga masih muda, sekitar 35 tahunan. Namanya Hotman karena ayahnya keturunan asli Batak. Tapi bukan itu masalahnya. Meski tidak memiliki wajah ala preman pasar, tatapannya sangat mengerikan.  Berani menyepelekan tugasnya maka kau akan mendapatkan pelototan super mematikan. Pernah temanku Andi tidak mengerjakan PR dengan alasan lupa, dan dia berakhir dalam keadaan panas dingin sampai tidak masuk sekolah sehari kemudian. Aku berlebihan? Tidak! Karena itu kenyataanya.

Dan sekarang aku sendiri yang berada dalam ambang hidup dan matiku. Kulirik wajah pak Hotman yang memicing tajam kearahku. Kurasa ia tahu gelagat mencurigakan dariku. Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ampuni Baim –lho kok? Ok lupakan!

“Kenapa kau tidak mengumpulkan buku tugasmu, Glen?”, suara berat pak Hotman semakin menambah ciut nyaliku. Aku menelan ludah gugup. Kuedarkan pandanganku. Semua temanku menatap prihatin diriku. Oh malang nian nasib hamba-Mu yang kece badai cetar membahana ini.

Kutarik nafas sebanyak-banyaknya. Kumantapkan hati, dan keluarlah kalimat keramat itu, “Maaf pak, saya lupa”. Atmosfir disekitarku memberat. Kemudian suara berat pak Hotman membahana menambah suram suasana. “Lupa? Kau lupa atau tidak mengerjakan eh? Kau tahu konsekuensinya kan?”.

“I-iya, pak..”

“Oh… kau tahu kan tugas itu kuberikan sudah dua minggu yang lalu. Harusnya malah dikumpulkan saat pertemuan sebelumnya tapi karena kau bilang terlalu banyak makanya kuberi kelonggaran. Dan sekarang kau bilang LUPA! BUAT ULANG DAN SERAHKAN PADAKU SEBELUM PUKUL DUA SIANG NANTI!”.

“Ta-tapi pak…”.

“Tidak ada tapi-tapian! Kalau terlambat maka nilai tugasmu kukosongi. PAHAM!”.

“Iya pak.”

“Yang lain, ingat ini baik-baik. Kalian itu masih pelajar. Tugasnya belajar. Mengerjakan PR juga termasuk belajar. Bukan cuma main. Main boleh, tapi ada waktunya. Jangan sampai melupakan tugas kalian sebagai pelajar, dan juga bla bla bla….”, dan dimulailah ceramah pak Hotman tentang memanfaatkan masa muda yang baik dengan belajar untuk meraih impian dimasa depan yang cenderung membangga-banggakan dirinya sendiri. Dan jujur, itu sangat membosankan. Bonus! Tatapan intimadasi dari seluruh teman sekelas tertuju padaku. Sial!

Nah, begitulah ceritanya. Sebenarnya aku sudah mulai mengerjakan tadi, disela-sela jam pelajaran yang lain juga saat jam istirahat. Tapi tetap saja masih belum selesai. Kini aku tengah berjuang, bertempur dengan rasa malas, lelah dan kantuk luar biasa. Bayangkan saja, merangkum satu bab tentang ‘Detik-Detik Kemerdekaan Indonesia’ setebal 35 halaman dengan banyak huruf rumit dan gambar entah apa, siapa yang tidak pusing. Bukannya aku tidak suka, tapi waktu yang amat sangat mepet membuatku terus mendumel tidak jelas. Huh! Gara-gara semalam meladeni kakak laki-lakiku main PS sampai tengah malam, aku malah lupa kalau hari ini mengumpulkan tugas Sejarah. Benar-benar sial. Awas saja! Kuberi pelajaran dia!

Kalian jangan ikut-ikutan yah! Sebenarnya bukan salahnya juga, nyatanya aku keasyikan. Hahhh… Oh sial! Hampir jam 2 siang. Aku harus cepat. Kurang satu subbab lagi.Baiklah, kurasa begitu saja cukup. Sekarang kalian sudah tahu kan, kenapa cowok keren ini masih ada di kelasnya?Kalau begitu kalian bisa pulang dan jangan menggangguku dengan tatapan seperti itu. Terima kasih karena mau mendengarkan ceritaku. Hush hush hush! Sudah sana pulang! Eh malah masih disini. Cepat pulang! Jangan keluyuran! Nanti dimarahi ibu lho! Pulang! Pulang! Hei kalian! PU-LANG! Huh dasar…

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started