PROFIL PESERTA LOMBA JURNALISTIK TINGKAT SMP KABUPATEN TEGAL TAHUN 2019

NAMA                  = INDI RIYANTI

NISN                      = 0051816155

TTL                         = TEGAL, 2005-05-09

KELAS                    = IX C

ALAMAT              = DS. BABAKAN RT.01/ RW.03 KEC.KRAMAT KAB.TEGAL

NAMA                  = IRGI JIMAS PRATAMA

NISN                      = 0042895874

TTL                         = TEGAL, 2004-11-27

KELAS                    = IX C

ALAMAT              = DS. WANGANDAWA RT.22/RW.05  TALANG KAB. TEGAL

NAMA                  = HAIKAL RIDHO ODIANSYAH

NISN                      = 0052407744

TTL                         = TEGAL, 2005-09-13

KELAS                    = IX G

ALAMAT              = DS. BONGKOK RT.03/ RW. 03 KEC. KRAMAT KAB. TEGAL

NAMA                  = FITA ROHMATUNNISA

NISN                      = 0066540192

TTL                         = TEGAL, 2006-01-03

KELAS                    = VIII B

ALAMAT              = DS. JATILAWANG, SEMINGKIR

NAMA                  = IRVATUL ULUM

NISN                      = 0068302559

TTL                         = TEGAL, 2006-03-12

KELAS                    = VIII D

ALAMAT              = DS. JATILAWANG

SALAM REDAKSI

Assalamualaikum Wr Wb

Selamat bersua lagi para pembaca setia Buletin Spenduta 2019 !

Kami segenap redaksi Buletin Spenduta mengucapkan puji syukur kepada Tuhan YME atas izinnya pada penerbitan perdana di ta

hun 2019 ini. Meskipun masih banyak kekurangan, semoga dengan adanya buletin ini dapat menumbuhkan jiwa baca bagi siswa-siswi SMP Negeri 2 Talang.

Edisi pertama ini kami melaporkan Pasukan Caping Spenduta Meriahkan Karnaval HUT RI Ke 74 Di Slawi dan Barisan Khusus Dalam Upacara Hut Ri Ke 74. Pada kesempatan ini kami mengekspos Fakta Menarik Seputar Lomba Peringatan Hut Ri Spenduta. Adapun kiriman siswa-siswi SMP Negeri 2 Talang, kami memilih puisi Negeriku Di Bawah Bulan, cerpen Cerita Pulang Sekolah, dan karikatur Lomba 17-an. Sosok seorang Desti yang diharapkan mampu menjadi teladan, Resensi Novel Dear Nathan serta Tips Menjadi Siswa Teladan Di Kelas.

Semoga sajian kami bisa bermanfaat untuk siswa-siswi SMP Negeri 2 Talang.

Wassalamualaikum Wr Wb

REDAKSI DUTA

SUSUNAN REDAKSI

Pelindung :

Supajar, S.Pd., M.MPd.

Pembina :

Nurul Izana, S.Pd.

Pimpinan Redaksi :

Syofiah, S.Pd.

Redaktur :

Malvica Diah Rosalia Ruslan, S.Pd.

Reporter :

Irgi Jimas Pratama

Indi Riyanti

Haikal Ridho Odiansyah

Fita Rohmatunnisa

Irfatul Ulum

Editor :

Safitri Irianti, S.Pd.

Alamat Redaksi :

Jalan Projosumarto 1 Wangandawa, Kecamatan Talang- Kabupaten Tegal

BERITA UTAMA DUTA

PASUKAN CAPING SPENDUTA MERIAHKAN KARNAVAL HUT RI KE 74 DI SLAWI

Rabu, 21 Agustus 2019 kemarin, SMP Negeri 2 Talang mengikuti karnaval di Alun-Alun Hanggawana, Slawi. Karnaval yang diikuti oleh seluruh SMP dan SMA se-kabuten Tegal ini dilakukan untuk memeringati HUT RI ke 74. Sebanyak 114 sekolah baik SMP maupun SMA berlomba-lomba memberikan penampilan terbaik mereka. Dengan tema melestarikan kearifan lokal, SMP Negeri 2 Talang menampilkan pasukan caping hias hasil dari kreativitas siswa.

Didampingi delapan guru, 120 siswa-siswi Spenduta berangkat ke Alun-Alun Hanggawana, Slawi pukul 11.45 dengan diangkut dua truk dan satu mini truk. Perjalanan ditempuh lebih kurang 45 menit lewat Balamoa. Sampai di Trayeman, antrean karnaval sudah terlihat. Bisa dibilang, keberangkatan SMP Negeri 2 Talang ini sukup terlambat. Alhasil, pasukan SMP Negeri 2 Talag terdaftar dengan nomor antrean 41.

Rute karnaval dimulai dari Gor Tri Sanja, kemudian ke Jalan AIP KS Tubun, selanjutnya ke Mako Brigif-4/Dewa Ratna, dan berakhir di Alun-alun Hanggawana Slawi. Karnaval dimulai pukul 13.00 WIB dengan garis awal di Gor Tri Sanja Slawi. Cukup lama bagi pasukan caping untuk memulai setar karena nomor antrean yang cukup besar. Sebelum mulai karnaval, para siswa mendapat snack dari guru pendamping. sekitar pukul 14.45 WIB, pasukan caping Spenduta baru memulai arak-arakan karnaval. Meski lelah, tidak menyulut semangat siswa-siswi yang ikut berpartisipasi.

Dengan atribut sederhana, siswa-siswi Spenduta tampil penuh percaya diri. Dibagi menjadi dua pasukan, peserta karnaval kompak mengenakan pakaian hitam putih. Hitam untuk perempuan dan putih untuk pasukan laki-laki. Dipermanis dengan sarung warna-warni, taklupa pula caping hias hasil kreativitas menempel apik sebagai hiasan kepala. Pasukan pertama yaitu grub drumband, membawakan tiga lagu aransemen dari Pak Taufan Yuniarto, selaku guru seni budaya SMP Negeri 2 Talang. Diikuti oleh 100 siswa-siswi sebagai pengiring. Selain grub drumband, peserta dipilih secara acak dari kelas VII, VIII, dan IX. Tidak kalah dengan siswa-siswi, guru pendamping juga ikut mengenakan caping sebagai wujud apresiasi.

Mungkin penampilan peserta dari Spenduta termasuk dalam kategori sederhana, namun dengan kostum hitam putih, yang coba ditonjolkan dari SMP Negeri 2 Talang adalah capingnya. Tidak perlu dandanan heboh karena hampir setiap tahun, peserta sekolah lain pun menampilkan hal serupa. “Kita itu nggak usah ribet, sederhana yang penting menarik gitu lho,” kata Pak Biyarto selaku koordinator kesiswaaan sekaligus guru yang ikut mendampingi karnaval. “Lagian, caping itu kan asli punya orang Indonesia. Kenapa harus ribet bikin kostum kalau malah membebani siswa. Kan karnavalnya memang buat ajang kreativitas jadi ya yang penting siswa seneng,” lanjutnya.

Selama arak-arakan, meski terlihat lelah namun mereka mengaku senang. “Capek bu, tapi seneng,” tutur Desti yang berperan sebagai dirijen grub drumband. Selain itu, para guru pun sigap membagikan air minum serta permen supaya lelah mereka sedikit berkurang. Ada juga yang membawa motor, jaga-jaga apabila ada siswa yang tidak kuat berjalan.

Tepat pukul 17.45, pasukan caing Spenduta memasuki garis finish yaitu Alun-alun Hanggawana Slawi. Ketika memasuki kawasan alun-alun, tepatnya melewati podium Bupati, siswa kompak melambaikan caping yang dikenakan. Sorak sorai siswa dan tepuk tangan dari penonton saling bersahutan memeriahkan tempat itu. Selanjutnya, siswa digiring menuju masjid yang ada di sekitar alun-alun untuk beristirahat sekaligus menunggu truk jemputan. Sesampainya di masjid, siswa diinstruksikan untuk makan nasi box yang dibagikan oleh guru pendamping. Setelah sholat  maghrib, barulah siswa diangkut pulang menggunakan truk. Berbeda dengan saat berangkat, pasukan caping pulang lewati Getas Kerep dan Wangandawa. Sampai di area sekolah pukul 19.00 WIB. Di sana orang tua masing-masing siswa sudah menunggu. “Alhamdulillah, tidak ada masalah dari berangkat sampai pulang,” kata Pak Biyarto. (Vita, Indi)

BERITA SEKOLAH DUTA

BARISAN KHUSUS DALAM UPACARA HUT RI KE 74

Talang – Upaca peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 74 SMP Negeri 2 Talang dipimpin langsung oleh kepala sekolah, bapak Supajar, S.Pd., M.MPd. Pada upacara tersebut, kepala SMP Negeri 2 Talang membacakan pidato dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. Isi pidato tersebut berupa ajakan agar kita selalu bekerja sama, berikhtiar, dan berjuang supaya Indonesia menjadi bangsa yang unggul dalam berbagai bidang.

Upacara yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut berlangsung secara khidmat. Peserta upacara begitu fokus dalam mengikuti jalannya upacara. Meski demikian, beberapa siswa terciduk tidak mengenakan atribut OSIS lengkap. Sejumlah delapan siswa yang ketahuan tidak mengenakan atribut lengkap tersebut, dibariskan dalam barisan khusus untuk menanamkan budaya malau, sehingga hal yang demikian tidak terluang lagi kemudian hari. Menurut guru Bk yang menangani siswa tersebut, alasan tidak mengenakan atribut lengkap karena hilang atau ketinggalan. Parahnya, dua dari keseluruhan pelaku adalah siswa kelas tujuh.

“Tidak mungkin hilang, belum dua bulan mereka jadi anak SMP,” ujar bu Artati selaku guru BK saat diwawancarai. Beliau juga menambahkan bahwa selain dibariskan di barisan khusus, siswa-siswa tersebut juga mendapat hukuman membersihkan sawang di gudang olah raga. “Biar kapok, jadi nggak diulangi,” tutur bu Artati. (Irgi, Haikal)

OPINI DUTA

FAKTA MENARIK SEPUTAR LOMBA PERINGATAN HUT RI SPENDUTA, NO 5 BIKIN KETAWA

Lomba sebagai bentuk peringatan HUT RI sudah menjadi hal biasa. Di desa-desa, komplek, bahkan sekolah, biasa mengadakan lomba untuk merayakan hari kemerdeaan Indonesia. Begitu pula dengan SMP Negeri 2 Talang. Ada sekitar tujuh lomba yang wajib diikuti setiap kelas, yakni lomba voli, estafet air dalam ember, pesan berantai, estafet melepas dan memakai kaos, memindahkan tali, lomba gerak jalan, dan karaoke. Namun, bukan hanya saat lomba saja yang menarik perhatian. Beberapa kejadiaan, baik sebelum lomba, saat lomda, dan setelah lomba pun sukses memancing tawa. Berikut adalah lima kejadian menarik yang berhasil diabadikan oleh bidikan kamera.

  1. Guru sebagai Role model

Guru sebagai role model dalam kelas mungkin sudah biasa. Namun apa jadinya jika guru menjadi role model di luar kelas apalagi untuk acara lomba? Auto bikin ketawa. Guna memeringati ulang tahun kemerdekaan republik indonesia, Spenduta (sebutan kece untuk SMP Negeri 2 Talang) mengadakan acara lomba selama empat hari penuh. Ada tujuh jenis perlombaan yang wajib diikuti oleh semua kelas dari kelas VII sampai kelas IX.

Memang hal biasa apabila suatu sekolah mengadakan lomba semacam ini, namun yang menarik adalah saat para guru dengan semangat melakukan demonstrasi tata cara lomba. Masing-masing guru yang mendapat mandat sebagai koordinator lomba secara bergilir menjadi role modelnya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan saat lomba menharuskan duduk di tanah pun dilakukan tanpa malu seperti pada lomba estafet memindahkan air.

2. Basah-basahan, boleh lha ya?

Masih berkaitan dengan lomba estafet memindahkan air. Beberapa peserta dari kelas IX memanfaatkan lomba ini sebagai ajang ‘balas dendam’ pada teman satu regu. Seperti yang terjadi pada Haikal Ridho siswa kelas IX G yang mendapat apes harus basah-basahan akibat ulah temannya. Si pelaku seolah sengaja menumpahkan air dalam ember yang harusnya dioper kepada Ido (panggilan akrab Haikal). Bukannya minta maaf, teman satu regu Ido malah menghadiahinya dengan tawa menggelegar. Dasar bocah!

  • Pocong-man

Hal menarik lainnya juga terjadi saat lomba gerak jalan. Ketika peserta lain hanya mengenakan pakaian olah raga biasa, maka peserta dari kelas IX C tampil beda dengan pasukan pocongnya. Total sepuluh siswa mewakili kelas IX C mengenakan kostum yang menyerupai hantu paling legend di negara Indonesia.

Berbekal sarung putih bersih dan selembar kain putih, kesepuluh siswa itu berubah menjadi pocong-man. Ditambah dengan riasan di sekitar mata, pasukan dari kelas IX C tersebut mampu menarik perhatian peserta lain. Tidak sampai di situ, mereka juga melakukan salam hormat ala pocong ketika memulai start. Mungkin untuk tahun selanjutnya, bukan hanya pocong tapi bisa juga kuntilanak dan sebangsanya.

  • Fenomena ‘Cinta Luar Biasa’

Penyanyi pop Anmesh Kamaleng sepertinya perlu memberi apresiasi pada siswa Spenduta karena lagunya yang meng-influencer. Dari 21 peserta lomba karaoke yang diadakan pada hari Jumat, 16 Agustus 2019, demam Cinta Luar Biasa merambah pada masing-masing peserta. Ada sekitar 15 peserta yang menyanyikan lagu milik penyanyi asal Pulau Alor, NTT ini. Dari yang versi asli sampai versi koplo. Mungkin karena liriknya mudah diingat, jadi lagu ini jadi favorit peserta yang baru memasuki usia jatuh cinta.

Akan tetapi, mudah bukan berarti gampang dinyanyikan. Efek demam panggung sangat memengaruhi penampilan para peserta. Contohnya, banyak peserta tidak dapat menyesuaikan antara lirik dengan musik. Alhasil, kadang lirik lebih cepat dari musik atau sebaliknya.

  • Dancing machine

Ingat dengan Caesar pada salah satu program Tr*nsTV? Ya! Lelaki yang terkenal akibat jogetannya itu rupanya punya penerus. Sebutlah Saprudin, siswa kelas VII C. Bakat dancing machine Saprudin baru diketahui saat lomba karaoke.

Bermula saat salah satu peserta menyanyikan lagu Cinta Luar Biasa versi koplo, Saprudin dengan pe-de-nya maju menjadi penari latar dadakan. Tingkah Saprudin ini lantas memunculkan rasa percaya diri penonton lain. Satu per satu siswa mulai maju dan ikut menari bersamaan dengan lagu Cinta Luar Biasa.

Tidak sampai di situ, Saprudin yang mendapat julukan dance machine Spenduta ini mendapat penghargaan sebagai penonton terbaik. Saat upacar peringatan HUT RI Ke 74, secara khusus siswa yang akrab dipanggil Udin ini diminta untuk menari mengikuti irama Jaran Goyang. Dengan luwes Saprudin menari sampai terjatuh dari podium. Beberapa guru memberi saweran sebagai bentuk apresiasi. (Irgi, Haikal, dan Irvatul)

PUISI DUTA

NEGERIKU DI BAWAH BULAN

(@_puanpena)

Silhouettes of People Holding the Flag of Indonesia

Negeriku di bawah bulan

Temaram tanpa cahaya

Gelap langit mengangkasa

Di atas awan menghitam

Negeriku di bawah bulan

Dibalik bayang puisi

Kalam Tuhan menemani

Setiap nafas Tanah Air

Negeriku di bawah bulan

Angin sunyi mendesah

Menyerukan sebuah nama

Keadilan dan kesetaraan

Negeriku di bawah bulan

Berkasih-kasih ria

Dengan hukum rimba

Kian bersahabat

Negeriku di bawah bulan

Bersembunyi dari terang

Takut akan kejujuran

Sebab kantong kelaparan

Negeriku di bawah bulan

Tanpa teman sendirian

Menangis pun tak apa

Toh semua mata buta

Negeriku di bawah bulan

Ditimang pangkuan bunda

Tapi bunda kesepian

Berlinang darah dan nanah

Negeriku di bawah bulan

Menundukkan badan

Malu akan uang

Berani dengan peraturan

Negeriku di bawah bulan

Diam tak bersuara

Menelan gelap duka

Mematung kebisuan

CERPEN DUTA

CERITA PULANG SEKOLAH

(@_puanpena)

Bel pulang sekolah sudah berbunyi dua puluh menit yang lalu. Kelas XI IPA 1 terlihat sepi dari luar karena sudah ditinggal penghuninya. Tapi, kalau kalian mau melongok ke dalam, maka akan terlihat sesosok makhluk. Bukan, bukan makhluk ‘apa’ tapi ‘siapa’. Lihat lebih jelas lagi! Diketahui kalau itu adalah manusia, lebih tepatnya pemuda tanggung berusia 16 tahun 10 bulan 6 hari 2 jam 35 menit –maaf, lupakan yang terakhir. Kalian tanya bagaimana aku tahu? OMG! Tentu saja. Karena pemuda yang kumaksud adalah aku sendiri. Hiks hiks hiks! Ok ok. Kembali ke laptop. Lalu, untuk apa aku disini? Itu yang mau kuberitahu pada kalian. Tapi ingat! Jangan bilang siapapun. Apalagi ibuku! Aku tidak yakin masih bisa selamat kalau ibuku tahu. Janji yah! Bagus.

Oh ya, sebelum aku menceritakan apa yang terjadi, alangkah baiknya kalau kalian mengenalku lebih dulu. Tak kenal maka tak sayang, benar kan? Baiklah, namaku Glen, bukan Glen Fredly, Glen Alinsky, apalagi Glen….dotan. Hanya Glen, titik. Kalian tak perlu tahu nama lengkapku, itu sedikit err…. ndeso kurasa. Teman-temanku memanggilku Glen, guruku juga Glen, ayahku, ibuku, kakekku, kakakku, sepupu-sepupuku juga Glen. Tapi tidak dengan nenekku. Beliau memanggilku dengan sebutan ‘Glembo’. Aku tidak tahu sejarahnya. Saat aku bertanya (waktu itu masih kecil), dengan logat cadel yang menggelikan, nenekku bilang “Glembo itu nama seorang jagoan pasar yang keren”. Aku yakin saat itu aku melihat nenekku mengeluarkan efek bling-bling yang menyilaukan. Tapi aku percaya saja. Toh, nenek bilang kalau Glembo itu keren, otomatis aku juga keren kan? Hehehe… Tapi itu dulu. Sekarang setelah aku tau siapa itu Glembo, aku tidak mau lagi dipanggil seperti itu. Demi apa! Daripada dibilang keren si Glembo lebih pantas dibilang menyeramkan. Keren darimananya, kalau ternyata wajahnya saja, oh… aku tidak mau mengingat itu lagi. Hiiiiii…..

Cukup perkenalannya. Sekarang mari kuceritakan mengapa dan bagaimana aku bisa ada di kelasku yang sudah sepi ini. Sebenarnya semuanya berjalan seperti biasa. Aku bangun pagi guna mengerjakan tugasku sebagai umat yang beragama. Setelah selesai dengan ritual yang menyangkut mandi dan tetek bengeknya, aku keluar kamar dengan dandanan rapi (sedikit berantakan karena tak mengenakan dasiku dengan benar). Aku menyapa ayah, ibu dan kakakku seperti biasa. Sarapan pagi seperti biasa. Menggoda kucing kakakku seperti biasa. Berangkat sekolah seperti biasa. Dan sampai di sekolah pun seperti biasa ditambah teriakan ala penggemar setiap kali aku mengerling genit pada setiap siswi yang menyapaku. Aku keren. Dan semua orang tahu itu. Hahaha…!  Pokoknya semuanya berjalan seperti biasa.

Lalu kenapa? Begini ceritanya. Pagi itu, di sekolah jam pelajaran pertama adalah Fisika. Aku tidak pernah paham dengan pelajaran ini. Tapi bukan berarti aku membencinya sampai harus bolos pelajaran seperti disinetron-sinetron yang sering ditonton kakak perempuanku. Aku tetap mengikuti pelajaran meski dengan tampang mupeng yang kentara. Teman sebangkuku sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Namun begitu, pelajaran ini sukses kulewati dengan selamat sentosa tanpa kurang suatu apa. Akhirnya pelajaran kedua dimulai, yaitu Sejarah juga masih berjalan wajar ditiga puluh menit pertama.Tapi mendadak aku merasakan firasat buruk saat pak guru Hotman, begitu aku memanggilnya bukan karena wajahnya mirip salah satu pengacara kondang tapi memang itu namanya, menanyakan tugas merangkum dua minggu yang lalu. Sedetik kemudian wajahku memucat.Oh oh oh! Ini gawat! Demi kolor kakekku yang bergambar Hello Kitty! Ini gawat pemirsah! Aku lupa! Caps lock! AKU LUPA!

Saat itu juga rasa panik menjalar disetiap sel tubuhku. Keringat dingin merembes lewat sela-sela ketiak yang selalu kuberi deodoran berbahan bunga matahari. Asal kalian tahu, pak Hotman sebenarnya bukanlah guru sangar seperti namanya. Perawakannya kurus tinggi dengan kulit sawo matang. Ia juga masih muda, sekitar 35 tahunan. Namanya Hotman karena ayahnya keturunan asli Batak. Tapi bukan itu masalahnya. Meski tidak memiliki wajah ala preman pasar, tatapannya sangat mengerikan.  Berani menyepelekan tugasnya maka kau akan mendapatkan pelototan super mematikan. Pernah temanku Andi tidak mengerjakan PR dengan alasan lupa, dan dia berakhir dalam keadaan panas dingin sampai tidak masuk sekolah sehari kemudian. Aku berlebihan? Tidak! Karena itu kenyataanya.

Dan sekarang aku sendiri yang berada dalam ambang hidup dan matiku. Kulirik wajah pak Hotman yang memicing tajam kearahku. Kurasa ia tahu gelagat mencurigakan dariku. Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ampuni Baim –lho kok? Ok lupakan!

“Kenapa kau tidak mengumpulkan buku tugasmu, Glen?”, suara berat pak Hotman semakin menambah ciut nyaliku. Aku menelan ludah gugup. Kuedarkan pandanganku. Semua temanku menatap prihatin diriku. Oh malang nian nasib hamba-Mu yang kece badai cetar membahana ini.

Kutarik nafas sebanyak-banyaknya. Kumantapkan hati, dan keluarlah kalimat keramat itu, “Maaf pak, saya lupa”. Atmosfir disekitarku memberat. Kemudian suara berat pak Hotman membahana menambah suram suasana. “Lupa? Kau lupa atau tidak mengerjakan eh? Kau tahu konsekuensinya kan?”.

“I-iya, pak..”

“Oh… kau tahu kan tugas itu kuberikan sudah dua minggu yang lalu. Harusnya malah dikumpulkan saat pertemuan sebelumnya tapi karena kau bilang terlalu banyak makanya kuberi kelonggaran. Dan sekarang kau bilang LUPA! BUAT ULANG DAN SERAHKAN PADAKU SEBELUM PUKUL DUA SIANG NANTI!”.

“Ta-tapi pak…”.

“Tidak ada tapi-tapian! Kalau terlambat maka nilai tugasmu kukosongi. PAHAM!”.

“Iya pak.”

“Yang lain, ingat ini baik-baik. Kalian itu masih pelajar. Tugasnya belajar. Mengerjakan PR juga termasuk belajar. Bukan cuma main. Main boleh, tapi ada waktunya. Jangan sampai melupakan tugas kalian sebagai pelajar, dan juga bla bla bla….”, dan dimulailah ceramah pak Hotman tentang memanfaatkan masa muda yang baik dengan belajar untuk meraih impian dimasa depan yang cenderung membangga-banggakan dirinya sendiri. Dan jujur, itu sangat membosankan. Bonus! Tatapan intimadasi dari seluruh teman sekelas tertuju padaku. Sial!

Nah, begitulah ceritanya. Sebenarnya aku sudah mulai mengerjakan tadi, disela-sela jam pelajaran yang lain juga saat jam istirahat. Tapi tetap saja masih belum selesai. Kini aku tengah berjuang, bertempur dengan rasa malas, lelah dan kantuk luar biasa. Bayangkan saja, merangkum satu bab tentang ‘Detik-Detik Kemerdekaan Indonesia’ setebal 35 halaman dengan banyak huruf rumit dan gambar entah apa, siapa yang tidak pusing. Bukannya aku tidak suka, tapi waktu yang amat sangat mepet membuatku terus mendumel tidak jelas. Huh! Gara-gara semalam meladeni kakak laki-lakiku main PS sampai tengah malam, aku malah lupa kalau hari ini mengumpulkan tugas Sejarah. Benar-benar sial. Awas saja! Kuberi pelajaran dia!

Kalian jangan ikut-ikutan yah! Sebenarnya bukan salahnya juga, nyatanya aku keasyikan. Hahhh… Oh sial! Hampir jam 2 siang. Aku harus cepat. Kurang satu subbab lagi.Baiklah, kurasa begitu saja cukup. Sekarang kalian sudah tahu kan, kenapa cowok keren ini masih ada di kelasnya?Kalau begitu kalian bisa pulang dan jangan menggangguku dengan tatapan seperti itu. Terima kasih karena mau mendengarkan ceritaku. Hush hush hush! Sudah sana pulang! Eh malah masih disini. Cepat pulang! Jangan keluyuran! Nanti dimarahi ibu lho! Pulang! Pulang! Hei kalian! PU-LANG! Huh dasar…

RESENSI BUKU

RESENSI NOVEL DEAR NATHAN

  • Judul Buku: Dear Nathan.
  • Pengarang: Erisca Febrianti.
  • Penerbit: Best Media.
  • Tahun Terbit : Maret 2016.
  • Jumlah Halaman: 528 Halaman.

Sinopsis Buku

Resensi novel Dear Nathan. Novel ini bergenre roman yang berkisah tentang masa putih abu-abu. Di dalamnya dikisahkan 2 orang yang memiliki dua kepribadian yang sangat berbeda bagai bumi dan langit. Gadis lugu Salma yang selalu takut kalau berbuat salah tapi pindah ke sekolah barunya yang penuh dengan anak-anak urakan.

Keadaan ini membuat Salma sangat tidak nyaman, terlebih saat hari pertamanya dia harus telat sekolah. Namun saat itu dia lolos dari hukuman karena dibantu seorang cowok bernama Nathan, si pembuat onar. Keduanya semakin akrab, Nathan merasa Salma memiliki pengaruh positif terhadap dirinya, sehingga dia ingin selalu dekat.

Semakin sering menghabiskan waktu bersama, rupanya keduanya memiliki perasaan yang sama tapi tidak diutarakan. Nathan tidak berani mengatakan perasaan sebenarnya karena kejutekan Salma padanya.

Kelebihan Buku

Novel ini memiliki cerita yang epic tentang anak muda di masa putih abu-abu, yang mampu membawa pembaca ikut di dalamnya. Karakter Nathan sungguh susah ditebak, dibalik tipikal yang urakan dia tidak suka menyakiti hati cewek. 

Kekurangan Buku

Banyak penggunaan diksi yang tidak pas pada novel Nathan ini, seringkali pembaca menemukan pemilihan diksi yang tidak pas saat membacanya. Pembaca merasa tidak cocok dengan penggunaan saya pada karakter Nathan yang sebenarnya bad guy.

Design a site like this with WordPress.com
Get started