Selamat
bersua lagi para pembaca setia Buletin Spenduta 2019 !
Kami
segenap redaksi Buletin Spenduta mengucapkan puji syukur kepada Tuhan YME atas
izinnya pada penerbitan perdana di ta
hun
2019 ini. Meskipun masih banyak kekurangan, semoga dengan adanya buletin ini
dapat menumbuhkan jiwa baca bagi siswa-siswi SMP Negeri 2 Talang.
Edisi
pertama ini kami melaporkan Pasukan Caping Spenduta Meriahkan Karnaval HUT RI Ke 74 Di Slawi dan
Barisan Khusus Dalam Upacara Hut Ri Ke 74. Pada kesempatan ini kami mengekspos Fakta
Menarik Seputar Lomba Peringatan Hut Ri Spenduta. Adapun kiriman siswa-siswi SMP Negeri 2 Talang, kami
memilih puisi Negeriku Di Bawah Bulan, cerpen Cerita
Pulang Sekolah, dan karikatur Lomba 17-an. Sosok seorang Desti
yang diharapkan mampu menjadi teladan, Resensi Novel Dear Nathan serta Tips
Menjadi Siswa Teladan Di Kelas.
Semoga
sajian kami bisa bermanfaat untuk siswa-siswi SMP Negeri 2 Talang.
PASUKAN CAPING SPENDUTA MERIAHKAN KARNAVAL HUT RI KE
74 DI SLAWI
Rabu, 21 Agustus
2019 kemarin, SMP Negeri 2 Talang mengikuti karnaval di Alun-Alun Hanggawana,
Slawi. Karnaval yang diikuti oleh seluruh SMP dan SMA se-kabuten Tegal ini dilakukan
untuk memeringati HUT RI ke 74. Sebanyak 114 sekolah baik SMP maupun SMA berlomba-lomba
memberikan penampilan terbaik mereka. Dengan tema melestarikan kearifan lokal,
SMP Negeri 2 Talang menampilkan pasukan caping hias hasil dari kreativitas
siswa.
Didampingi
delapan guru, 120 siswa-siswi Spenduta berangkat ke Alun-Alun Hanggawana, Slawi
pukul 11.45 dengan diangkut dua truk dan satu mini truk. Perjalanan ditempuh
lebih kurang 45 menit lewat Balamoa. Sampai di Trayeman, antrean karnaval sudah
terlihat. Bisa dibilang, keberangkatan SMP Negeri 2 Talang ini sukup terlambat.
Alhasil, pasukan SMP Negeri 2 Talag terdaftar dengan nomor antrean 41.
Rute karnaval
dimulai dari Gor Tri Sanja, kemudian ke Jalan AIP KS Tubun, selanjutnya ke Mako
Brigif-4/Dewa Ratna, dan berakhir di Alun-alun Hanggawana Slawi. Karnaval
dimulai pukul 13.00 WIB dengan garis awal di Gor Tri Sanja Slawi. Cukup lama
bagi pasukan caping untuk memulai setar karena nomor antrean yang cukup besar.
Sebelum mulai karnaval, para siswa mendapat snack dari guru pendamping. sekitar
pukul 14.45 WIB, pasukan caping Spenduta baru memulai arak-arakan karnaval.
Meski lelah, tidak menyulut semangat siswa-siswi yang ikut berpartisipasi.
Dengan atribut
sederhana, siswa-siswi Spenduta tampil penuh percaya diri. Dibagi menjadi dua
pasukan, peserta karnaval kompak mengenakan pakaian hitam putih. Hitam untuk
perempuan dan putih untuk pasukan laki-laki. Dipermanis dengan sarung
warna-warni, taklupa pula caping hias hasil kreativitas menempel apik sebagai
hiasan kepala. Pasukan pertama yaitu grub drumband, membawakan tiga lagu
aransemen dari Pak Taufan Yuniarto, selaku guru seni budaya SMP Negeri 2
Talang. Diikuti oleh 100 siswa-siswi sebagai pengiring. Selain grub drumband,
peserta dipilih secara acak dari kelas VII, VIII, dan IX. Tidak kalah dengan
siswa-siswi, guru pendamping juga ikut mengenakan caping sebagai wujud
apresiasi.
Mungkin
penampilan peserta dari Spenduta termasuk dalam kategori sederhana, namun
dengan kostum hitam putih, yang coba ditonjolkan dari SMP Negeri 2 Talang
adalah capingnya. Tidak perlu dandanan heboh karena hampir setiap tahun,
peserta sekolah lain pun menampilkan hal serupa. “Kita itu nggak usah ribet,
sederhana yang penting menarik gitu lho,” kata Pak Biyarto selaku koordinator
kesiswaaan sekaligus guru yang ikut mendampingi karnaval. “Lagian, caping itu
kan asli punya orang Indonesia. Kenapa harus ribet bikin kostum kalau malah
membebani siswa. Kan karnavalnya memang buat ajang kreativitas jadi ya yang
penting siswa seneng,” lanjutnya.
Selama
arak-arakan, meski terlihat lelah namun mereka mengaku senang. “Capek bu, tapi
seneng,” tutur Desti yang berperan sebagai dirijen grub drumband. Selain itu,
para guru pun sigap membagikan air minum serta permen supaya lelah mereka
sedikit berkurang. Ada juga yang membawa motor, jaga-jaga apabila ada siswa
yang tidak kuat berjalan.
Tepat pukul 17.45, pasukan caing Spenduta memasuki garis finish yaitu Alun-alun Hanggawana Slawi. Ketika memasuki kawasan alun-alun, tepatnya melewati podium Bupati, siswa kompak melambaikan caping yang dikenakan. Sorak sorai siswa dan tepuk tangan dari penonton saling bersahutan memeriahkan tempat itu. Selanjutnya, siswa digiring menuju masjid yang ada di sekitar alun-alun untuk beristirahat sekaligus menunggu truk jemputan. Sesampainya di masjid, siswa diinstruksikan untuk makan nasi box yang dibagikan oleh guru pendamping. Setelah sholat maghrib, barulah siswa diangkut pulang menggunakan truk. Berbeda dengan saat berangkat, pasukan caping pulang lewati Getas Kerep dan Wangandawa. Sampai di area sekolah pukul 19.00 WIB. Di sana orang tua masing-masing siswa sudah menunggu. “Alhamdulillah, tidak ada masalah dari berangkat sampai pulang,” kata Pak Biyarto. (Vita, Indi)
Talang – Upaca
peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 74 SMP Negeri 2 Talang dipimpin langsung oleh
kepala sekolah, bapak Supajar, S.Pd., M.MPd. Pada upacara tersebut, kepala SMP
Negeri 2 Talang membacakan pidato dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,
Muhadjir Effendy. Isi pidato tersebut berupa ajakan agar kita selalu bekerja
sama, berikhtiar, dan berjuang supaya Indonesia menjadi bangsa yang unggul
dalam berbagai bidang.
Upacara yang
dimulai pukul 08.00 WIB tersebut berlangsung secara khidmat. Peserta upacara
begitu fokus dalam mengikuti jalannya upacara. Meski demikian, beberapa siswa
terciduk tidak mengenakan atribut OSIS lengkap. Sejumlah delapan siswa yang
ketahuan tidak mengenakan atribut lengkap tersebut, dibariskan dalam barisan
khusus untuk menanamkan budaya malau, sehingga hal yang demikian tidak terluang
lagi kemudian hari. Menurut guru Bk yang menangani siswa tersebut, alasan tidak
mengenakan atribut lengkap karena hilang atau ketinggalan. Parahnya, dua dari
keseluruhan pelaku adalah siswa kelas tujuh.
“Tidak mungkin hilang, belum dua bulan mereka jadi anak SMP,” ujar bu Artati selaku guru BK saat diwawancarai. Beliau juga menambahkan bahwa selain dibariskan di barisan khusus, siswa-siswa tersebut juga mendapat hukuman membersihkan sawang di gudang olah raga. “Biar kapok, jadi nggak diulangi,” tutur bu Artati. (Irgi, Haikal)
FAKTA MENARIK SEPUTAR LOMBA PERINGATAN HUT RI SPENDUTA, NO 5 BIKIN KETAWA
Lomba sebagai
bentuk peringatan HUT RI sudah menjadi hal biasa. Di desa-desa, komplek, bahkan
sekolah, biasa mengadakan lomba untuk merayakan hari kemerdeaan Indonesia.
Begitu pula dengan SMP Negeri 2 Talang. Ada sekitar tujuh lomba yang wajib
diikuti setiap kelas, yakni lomba voli, estafet air dalam ember, pesan
berantai, estafet melepas dan memakai kaos, memindahkan tali, lomba gerak
jalan, dan karaoke. Namun, bukan hanya saat lomba saja yang menarik perhatian.
Beberapa kejadiaan, baik sebelum lomba, saat lomda, dan setelah lomba pun
sukses memancing tawa. Berikut adalah lima kejadian menarik yang berhasil
diabadikan oleh bidikan kamera.
Guru sebagai Role model
Guru sebagai role model dalam kelas mungkin sudah biasa. Namun apa jadinya jika guru menjadi role model di luar kelas apalagi untuk acara lomba? Auto bikin ketawa. Guna memeringati ulang tahun kemerdekaan republik indonesia, Spenduta (sebutan kece untuk SMP Negeri 2 Talang) mengadakan acara lomba selama empat hari penuh. Ada tujuh jenis perlombaan yang wajib diikuti oleh semua kelas dari kelas VII sampai kelas IX.
Memang hal biasa apabila suatu sekolah mengadakan lomba semacam ini, namun yang menarik adalah saat para guru dengan semangat melakukan demonstrasi tata cara lomba. Masing-masing guru yang mendapat mandat sebagai koordinator lomba secara bergilir menjadi role modelnya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan saat lomba menharuskan duduk di tanah pun dilakukan tanpa malu seperti pada lomba estafet memindahkan air.
2. Basah-basahan, boleh lha ya?
Masih berkaitan
dengan lomba estafet memindahkan air. Beberapa peserta dari kelas IX
memanfaatkan lomba ini sebagai ajang ‘balas dendam’ pada teman satu regu.
Seperti yang terjadi pada Haikal Ridho siswa kelas IX G yang mendapat apes
harus basah-basahan akibat ulah temannya. Si pelaku seolah sengaja menumpahkan
air dalam ember yang harusnya dioper kepada Ido (panggilan akrab Haikal).
Bukannya minta maaf, teman satu regu Ido malah menghadiahinya dengan tawa
menggelegar. Dasar bocah!
Pocong-man
Hal menarik
lainnya juga terjadi saat lomba gerak jalan. Ketika peserta lain hanya
mengenakan pakaian olah raga biasa, maka peserta dari kelas IX C tampil beda
dengan pasukan pocongnya. Total sepuluh siswa mewakili kelas IX C mengenakan
kostum yang menyerupai hantu paling legend di negara Indonesia.
Berbekal sarung
putih bersih dan selembar kain putih, kesepuluh siswa itu berubah menjadi
pocong-man. Ditambah dengan riasan di sekitar mata, pasukan dari kelas IX C
tersebut mampu menarik perhatian peserta lain. Tidak sampai di situ, mereka
juga melakukan salam hormat ala pocong ketika memulai start. Mungkin untuk
tahun selanjutnya, bukan hanya pocong tapi bisa juga kuntilanak dan
sebangsanya.
Fenomena ‘Cinta Luar
Biasa’
Penyanyi pop
Anmesh Kamaleng sepertinya perlu memberi apresiasi pada siswa Spenduta karena
lagunya yang meng-influencer. Dari 21 peserta lomba karaoke yang diadakan pada
hari Jumat, 16 Agustus 2019, demam Cinta Luar Biasa merambah pada masing-masing
peserta. Ada sekitar 15 peserta yang menyanyikan lagu milik penyanyi asal Pulau
Alor, NTT ini. Dari yang versi asli sampai versi koplo. Mungkin karena liriknya
mudah diingat, jadi lagu ini jadi favorit peserta yang baru memasuki usia jatuh
cinta.
Akan tetapi,
mudah bukan berarti gampang dinyanyikan. Efek demam panggung sangat memengaruhi
penampilan para peserta. Contohnya, banyak peserta tidak dapat menyesuaikan
antara lirik dengan musik. Alhasil, kadang lirik lebih cepat dari musik atau
sebaliknya.
Dancing machine
Ingat dengan
Caesar pada salah satu program Tr*nsTV? Ya! Lelaki yang terkenal akibat
jogetannya itu rupanya punya penerus. Sebutlah Saprudin, siswa kelas VII C.
Bakat dancing machine Saprudin baru diketahui saat lomba karaoke.
Bermula saat salah satu peserta menyanyikan lagu Cinta Luar Biasa versi koplo, Saprudin dengan pe-de-nya maju menjadi penari latar dadakan. Tingkah Saprudin ini lantas memunculkan rasa percaya diri penonton lain. Satu per satu siswa mulai maju dan ikut menari bersamaan dengan lagu Cinta Luar Biasa.
Tidak sampai di
situ, Saprudin yang mendapat julukan dance machine Spenduta ini mendapat
penghargaan sebagai penonton terbaik. Saat upacar peringatan HUT RI Ke 74, secara
khusus siswa yang akrab dipanggil Udin ini diminta untuk menari mengikuti irama
Jaran Goyang. Dengan luwes Saprudin menari sampai terjatuh dari podium.
Beberapa guru memberi saweran sebagai bentuk apresiasi. (Irgi, Haikal, dan Irvatul)
Bel
pulang sekolah sudah berbunyi dua puluh menit yang lalu. Kelas XI IPA 1
terlihat sepi dari luar karena sudah ditinggal penghuninya. Tapi, kalau kalian
mau melongok ke dalam, maka akan terlihat sesosok makhluk. Bukan, bukan makhluk
‘apa’ tapi ‘siapa’. Lihat lebih jelas lagi! Diketahui kalau itu adalah manusia,
lebih tepatnya pemuda tanggung berusia 16 tahun 10 bulan 6 hari 2 jam 35 menit
–maaf, lupakan yang terakhir. Kalian tanya bagaimana aku tahu? OMG! Tentu saja.
Karena pemuda yang kumaksud adalah aku sendiri. Hiks hiks hiks! Ok ok. Kembali
ke laptop. Lalu, untuk apa aku disini? Itu yang mau kuberitahu pada kalian.
Tapi ingat! Jangan bilang siapapun. Apalagi ibuku! Aku tidak yakin masih bisa
selamat kalau ibuku tahu. Janji yah! Bagus.
Oh
ya, sebelum aku menceritakan apa yang terjadi, alangkah baiknya kalau kalian
mengenalku lebih dulu. Tak kenal maka tak sayang, benar kan? Baiklah, namaku
Glen, bukan Glen Fredly, Glen Alinsky, apalagi Glen….dotan. Hanya Glen,
titik. Kalian tak perlu tahu nama lengkapku, itu sedikit err…. ndeso kurasa. Teman-temanku memanggilku
Glen, guruku juga Glen, ayahku, ibuku, kakekku, kakakku, sepupu-sepupuku juga
Glen. Tapi tidak dengan nenekku. Beliau memanggilku dengan sebutan ‘Glembo’.
Aku tidak tahu sejarahnya. Saat aku bertanya (waktu itu masih kecil), dengan
logat cadel yang menggelikan, nenekku bilang “Glembo itu nama seorang jagoan
pasar yang keren”. Aku yakin saat itu aku melihat nenekku mengeluarkan efek bling-bling yang menyilaukan. Tapi aku
percaya saja. Toh, nenek bilang kalau Glembo itu keren, otomatis aku juga keren
kan? Hehehe… Tapi itu dulu. Sekarang setelah aku tau siapa itu Glembo, aku
tidak mau lagi dipanggil seperti itu. Demi apa! Daripada dibilang keren si
Glembo lebih pantas dibilang menyeramkan. Keren darimananya, kalau ternyata
wajahnya saja, oh… aku tidak mau mengingat itu lagi. Hiiiiii…..
Cukup
perkenalannya. Sekarang mari kuceritakan mengapa dan bagaimana aku bisa ada di
kelasku yang sudah sepi ini. Sebenarnya semuanya berjalan seperti biasa. Aku
bangun pagi guna mengerjakan tugasku sebagai umat yang beragama. Setelah
selesai dengan ritual yang menyangkut mandi dan tetek bengeknya, aku keluar
kamar dengan dandanan rapi (sedikit berantakan karena tak mengenakan dasiku
dengan benar). Aku menyapa ayah, ibu dan kakakku seperti biasa. Sarapan pagi
seperti biasa. Menggoda kucing kakakku seperti biasa. Berangkat sekolah seperti
biasa. Dan sampai di sekolah pun seperti biasa ditambah teriakan ala penggemar
setiap kali aku mengerling genit pada setiap siswi yang menyapaku. Aku keren.
Dan semua orang tahu itu. Hahaha…!
Pokoknya semuanya berjalan seperti biasa.
Lalu
kenapa? Begini ceritanya. Pagi itu, di sekolah jam pelajaran pertama adalah
Fisika. Aku tidak pernah paham dengan pelajaran ini. Tapi bukan berarti aku
membencinya sampai harus bolos pelajaran seperti disinetron-sinetron yang
sering ditonton kakak perempuanku. Aku tetap mengikuti pelajaran meski dengan
tampang mupeng yang kentara. Teman sebangkuku sampai geleng-geleng kepala
melihatnya. Namun begitu, pelajaran ini sukses kulewati dengan selamat sentosa
tanpa kurang suatu apa. Akhirnya pelajaran kedua dimulai, yaitu Sejarah juga
masih berjalan wajar ditiga puluh menit pertama.Tapi mendadak aku merasakan
firasat buruk saat pak guru Hotman, begitu aku memanggilnya bukan karena wajahnya
mirip salah satu pengacara kondang tapi memang itu namanya, menanyakan tugas
merangkum dua minggu yang lalu. Sedetik kemudian wajahku memucat.Oh oh oh! Ini
gawat! Demi kolor kakekku yang bergambar Hello Kitty! Ini gawat pemirsah! Aku
lupa! Caps lock! AKU LUPA!
Saat
itu juga rasa panik menjalar disetiap sel tubuhku. Keringat dingin merembes
lewat sela-sela ketiak yang selalu kuberi deodoran berbahan bunga matahari.
Asal kalian tahu, pak Hotman sebenarnya bukanlah guru sangar seperti namanya.
Perawakannya kurus tinggi dengan kulit sawo matang. Ia juga masih muda, sekitar
35 tahunan. Namanya Hotman karena ayahnya keturunan asli Batak. Tapi bukan itu
masalahnya. Meski tidak memiliki wajah ala preman pasar, tatapannya sangat
mengerikan. Berani menyepelekan tugasnya
maka kau akan mendapatkan pelototan super mematikan. Pernah temanku Andi tidak
mengerjakan PR dengan alasan lupa, dan dia berakhir dalam keadaan panas dingin
sampai tidak masuk sekolah sehari kemudian. Aku berlebihan? Tidak! Karena itu
kenyataanya.
Dan
sekarang aku sendiri yang berada dalam ambang hidup dan matiku. Kulirik wajah
pak Hotman yang memicing tajam kearahku. Kurasa ia tahu gelagat mencurigakan
dariku. Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ampuni Baim –lho kok?
Ok lupakan!
“Kenapa
kau tidak mengumpulkan buku tugasmu, Glen?”, suara berat pak Hotman semakin
menambah ciut nyaliku. Aku menelan ludah gugup. Kuedarkan pandanganku. Semua
temanku menatap prihatin diriku. Oh malang nian nasib hamba-Mu yang kece badai
cetar membahana ini.
Kutarik
nafas sebanyak-banyaknya. Kumantapkan hati, dan keluarlah kalimat keramat itu,
“Maaf pak, saya lupa”. Atmosfir disekitarku memberat. Kemudian suara berat pak
Hotman membahana menambah suram suasana. “Lupa? Kau lupa atau tidak mengerjakan
eh? Kau tahu konsekuensinya kan?”.
“I-iya,
pak..”
“Oh…
kau tahu kan tugas itu kuberikan sudah dua minggu yang lalu. Harusnya malah
dikumpulkan saat pertemuan sebelumnya tapi karena kau bilang terlalu banyak
makanya kuberi kelonggaran. Dan sekarang kau bilang LUPA! BUAT ULANG DAN
SERAHKAN PADAKU SEBELUM PUKUL DUA SIANG NANTI!”.
“Ta-tapi
pak…”.
“Tidak
ada tapi-tapian! Kalau terlambat maka nilai tugasmu kukosongi. PAHAM!”.
“Iya
pak.”
“Yang
lain, ingat ini baik-baik. Kalian itu masih pelajar. Tugasnya belajar. Mengerjakan
PR juga termasuk belajar. Bukan cuma main. Main boleh, tapi ada waktunya.
Jangan sampai melupakan tugas kalian sebagai pelajar, dan juga bla bla
bla….”, dan dimulailah ceramah pak Hotman tentang memanfaatkan masa muda yang
baik dengan belajar untuk meraih impian dimasa depan yang cenderung
membangga-banggakan dirinya sendiri. Dan jujur, itu sangat membosankan. Bonus!
Tatapan intimadasi dari seluruh teman sekelas tertuju padaku. Sial!
Nah,
begitulah ceritanya. Sebenarnya aku sudah mulai mengerjakan tadi, disela-sela
jam pelajaran yang lain juga saat jam istirahat. Tapi tetap saja masih belum
selesai. Kini aku tengah berjuang, bertempur dengan rasa malas, lelah dan
kantuk luar biasa. Bayangkan saja, merangkum satu bab tentang ‘Detik-Detik
Kemerdekaan Indonesia’ setebal 35 halaman dengan banyak huruf rumit dan gambar
entah apa, siapa yang tidak pusing. Bukannya aku tidak suka, tapi waktu yang
amat sangat mepet membuatku terus mendumel tidak jelas. Huh! Gara-gara semalam
meladeni kakak laki-lakiku main PS sampai tengah malam, aku malah lupa kalau
hari ini mengumpulkan tugas Sejarah. Benar-benar sial. Awas saja! Kuberi
pelajaran dia!
Kalian
jangan ikut-ikutan yah! Sebenarnya bukan salahnya juga, nyatanya aku keasyikan.
Hahhh… Oh sial! Hampir jam 2 siang. Aku harus cepat. Kurang satu subbab
lagi.Baiklah, kurasa begitu saja cukup. Sekarang kalian sudah tahu kan, kenapa
cowok keren ini masih ada di kelasnya?Kalau begitu kalian bisa pulang dan
jangan menggangguku dengan tatapan seperti itu. Terima kasih karena mau
mendengarkan ceritaku. Hush hush hush! Sudah sana pulang! Eh malah masih
disini. Cepat pulang! Jangan keluyuran! Nanti dimarahi ibu lho! Pulang! Pulang!
Hei kalian! PU-LANG! Huh dasar…
Resensi novel Dear
Nathan. Novel ini bergenre roman yang berkisah tentang masa putih abu-abu. Di
dalamnya dikisahkan 2 orang yang memiliki dua kepribadian yang sangat berbeda
bagai bumi dan langit. Gadis lugu Salma yang selalu takut kalau berbuat salah
tapi pindah ke sekolah barunya yang penuh dengan anak-anak urakan.
Keadaan ini membuat Salma sangat tidak
nyaman, terlebih saat hari pertamanya dia harus telat sekolah. Namun saat itu
dia lolos dari hukuman karena dibantu seorang cowok bernama Nathan, si pembuat
onar. Keduanya semakin akrab, Nathan merasa Salma memiliki pengaruh positif terhadap
dirinya, sehingga dia ingin selalu dekat.
Semakin sering menghabiskan waktu
bersama, rupanya keduanya memiliki perasaan yang sama tapi tidak diutarakan.
Nathan tidak berani mengatakan perasaan sebenarnya karena kejutekan Salma
padanya.
Kelebihan Buku
Novel ini memiliki cerita yang epic
tentang anak muda di masa putih abu-abu, yang mampu membawa pembaca ikut di
dalamnya. Karakter Nathan sungguh susah ditebak, dibalik tipikal yang urakan
dia tidak suka menyakiti hati cewek.
Kekurangan Buku
Banyak penggunaan diksi yang tidak pas pada
novel Nathan ini, seringkali pembaca menemukan pemilihan diksi yang tidak pas
saat membacanya. Pembaca merasa tidak cocok dengan penggunaan saya pada
karakter Nathan yang sebenarnya bad guy.